ARTIKEL

Artificial Intelligence (AI) dan Pasar Modal

Tugas dari pasar modal adalah mengalirkan dana dari investor kepada perusahaan yang tepat. Dengan definisi tersebut, pasar modal terdengar mudah dimengerti. Namun, sebenarnya pasar modal sangat dinamis dan merefleksikan perubahan dunia. Pasar modal saat ini sangat berhubungan dengan perang dagang dan suku bunga. Dengan perhitungan ekonomi yang sangat kompleks, terjadi beberapa perubahan keadaan, salah satunya dengan ikutnya komputer dengan berbagai algoritma yang mengendalikan investasi. Tidak hanya mengendalikan pembelian dan penjualan sekuritas, tetapi juga pengawasan ekonomi dan pengalokasian modal.

Di Amerika, 35% dari pasar saham, 60% dari aset ekuitas institusional dan, 60% dari aktivitas perdagangan dikendalikan oleh komputer. Program artificial-intelligence yang baru dapat membuat aturan investasi sendiri dengan cara yang hanya dipahami sebagian manusia. Terlibatnya kecerdasan buatan dalam dunia pasar modal menjadi lebih unik dibanding sektor lain, karena dapat memberikan kekuatan atas perusahaan, mendistribusikan kembali kekayaan, atau bahkan malah menyebabkan kekacauan dalam perekonomian.

Gambar 1.1. Wacana penggunaan AI dalam Investasi

       Dewasa ini, kebangkitan komputer telah mendemokratisasi keuangan dengan memangkas biaya. Saham, reksadana, dan bahkan ETF (Exchange Trade Fund) biasa hanya dikenakan biaya sekitar 0,1% setahun, jauh lebih murah dibandingkan dengan sekitar 1% untuk dana aktif yang dijalankan manusia. Kita semua dapat membelinya dengan mudah hanya dari sebuah ponsel. Biaya trading telah mengecil dan pasar biasanya lebih likuid daripada sebelumnya.

          Namun, era keuangan baru yang didominasi mesin memunculkan masalah. Salah satunya tentang stabilitas keuangan. Investor berpengalaman berpendapat bahwa komputer dapat mendistorsi harga aset, karena banyak algoritma yang kemungkinan salah menafsirkan karakteristik yang diberikan. Regulator khawatir bahwa likuiditas berpengaruh secara drastis. Klaim-klaim tersebut bisa berlebihan karena manusia malah sangat mampu menyebabkan problem itu sendiri sendiri dan komputer malah dapat membantu mengelola risiko. Kekhawatiran lainnya adalah bagaimana keuangan yang terkomputerisasi mungkin dapat membuat kekayaan hanya terkonsentrasi pada pihak tertentu. Karena kinerja lebih bertumpu pada kekuatan pemrosesan dan data, mereka yang memiliki pengaruh besar dapat membuat jumlah uang menjadi tidak proporsional. Selain itu, masalah lain yang mungkin ditimbulkan adalah tentang manajemen perusahaan. Bagaimana jika saham-saham yang dijalankan oleh komputer dengan kecerdasan buatan, justru memilih pada kebijakan perusahaan yang salah? Misalnya, perusahaan menjadi salah dalam pembayaran dividen, aset mengalir ke pihak yang salah, dan lain-lain.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *