Persediaan energi fosil di Indonesia semakin menipis, sementara kebutuhan listrik terus melonjak seiring pertumbuhan penduduk dan ekonomi. Situasi ini mengancam krisis energi nasional yang bisa menghambat pembangunan dan menekan kualitas hidup masyarakat—seperti pemadaman berulang di Jawa-Bali akibat pasokan fosil menipis dan pengelolaan yang kurang optimal. Energi jadi pondasi utama semua sektor kehidupan, tapi sumber dominan seperti minyak bumi, batubara, dan gas alam bersifat tak terbarukan, pasti habis suatu saat nanti. Lebih parah lagi, eksploitasinya menyumbang sekitar 30% emisi karbon global, mempercepat pemanasan bumi dan perubahan iklim.
Krisis harga fosil yang fluktuatif, cadangan terbatas, dan kerusakan lingkungan mendorong pencarian solusi global: batasi penggunaan fosil, kurangi ketergantungan impor-ekspor, serta eksplorasi energi alternatif seperti surya, angin, air, biomassa, dan gelombang laut. Indonesia punya potensi emas—40% cadangan panas bumi dunia, sinar matahari sepanjang tahun—tapi sayang, hanya kurang dari 10% listrik dari sumber terbarukan. PLTA saja sudah suplai 20% listrik dunia; kita harus percepat langkah.
Tenaga surya menonjol sebagai alternatif ramah lingkungan dan mudah diadopsi. Panel surya di atap rumah atau bangunan tangkap cahaya matahari, konversi langsung jadi listrik—outputnya bergantung luas paparan sel surya. Inovasi PLTS terapung di waduk semakin canggih: hemat lahan, efisiensi tinggi karena air dinginkan panel saat cuaca panas, dan ganti fosil untuk tekan emisi gas rumah kaca. Hasilnya, transisi energi lebih cepat menuju sistem berkelanjutan.
Namun, hambatan masih ada. Biaya instalasi awal PLTS jauh lebih tinggi daripada fosil. Produksi listriknya intermiten, sulit diprediksi akibat cuaca berubah-ubah, yang ganggu kestabilan jaringan. Kasus nyata di Desa Ilomata, Gorontalo: 30 panel surya rusak karat setelah beberapa tahun, paksa warga beralih kembali ke genset fosil.
Solusi ada di tangan lulusan Teknik Kimia Industri sebagai design engineer atau R&D engineer. Mereka bisa kembangkan material anti-korosi tahan lama, optimasi efisiensi panel, integrasi AI untuk prediksi cuaca akurat, serta desain sistem hybrid surya dengan penyimpan energi. Kontribusi ini pastikan PLTS tak hanya andal secara teknis, tapi juga diterima masyarakat luas—dukung target 23% energi terbarukan pada 2025.
Pemanfaatan tenaga surya bukan sekadar opsi, melainkan kebutuhan mendesak. Dengan memaksimalkan potensi alam kita, kita bisa atasi krisis fosil, wujudkan energi murah dan bersih, serta bangun masa depan ekonomi hijau yang lestari bagi generasi mendatang.
Persediaan energi fosil di Indonesia semakin menipis, sementara kebutuhan listrik terus melonjak seiring pertumbuhan penduduk dan ekonomi. Situasi ini mengancam krisis energi nasional yang bisa menghambat pembangunan dan menekan kualitas hidup masyarakat—seperti pemadaman berulang di Jawa-Bali akibat pasokan fosil menipis dan pengelolaan yang kurang optimal. Energi jadi pondasi utama semua sektor kehidupan, tapi sumber dominan seperti minyak bumi, batubara, dan gas alam bersifat tak terbarukan, pasti habis suatu saat nanti. Lebih parah lagi, eksploitasinya menyumbang sekitar 30% emisi karbon global, mempercepat pemanasan bumi dan perubahan iklim.
Krisis harga fosil yang fluktuatif, cadangan terbatas, dan kerusakan lingkungan mendorong pencarian solusi global: batasi penggunaan fosil, kurangi ketergantungan impor-ekspor, serta eksplorasi energi alternatif seperti surya, angin, air, biomassa, dan gelombang laut. Indonesia punya potensi emas—40% cadangan panas bumi dunia, sinar matahari sepanjang tahun—tapi sayang, hanya kurang dari 10% listrik dari sumber terbarukan. PLTA saja sudah suplai 20% listrik dunia; kita harus percepat langkah.
Tenaga surya menonjol sebagai alternatif ramah lingkungan dan mudah diadopsi. Panel surya di atap rumah atau bangunan tangkap cahaya matahari, konversi langsung jadi listrik—outputnya bergantung luas paparan sel surya. Inovasi PLTS terapung di waduk semakin canggih: hemat lahan, efisiensi tinggi karena air dinginkan panel saat cuaca panas, dan ganti fosil untuk tekan emisi gas rumah kaca. Hasilnya, transisi energi lebih cepat menuju sistem berkelanjutan.
Namun, hambatan masih ada. Biaya instalasi awal PLTS jauh lebih tinggi daripada fosil. Produksi listriknya intermiten, sulit diprediksi akibat cuaca berubah-ubah, yang ganggu kestabilan jaringan. Kasus nyata di Desa Ilomata, Gorontalo: 30 panel surya rusak karat setelah beberapa tahun, paksa warga beralih kembali ke genset fosil.
Solusi ada di tangan lulusan Teknik Kimia Industri sebagai design engineer atau R&D engineer. Mereka bisa kembangkan material anti-korosi tahan lama, optimasi efisiensi panel, integrasi AI untuk prediksi cuaca akurat, serta desain sistem hybrid surya dengan penyimpan energi. Kontribusi ini pastikan PLTS tak hanya andal secara teknis, tapi juga diterima masyarakat luas—dukung target 23% energi terbarukan pada 2025.
Pemanfaatan tenaga surya bukan sekadar opsi, melainkan kebutuhan mendesak. Dengan memaksimalkan potensi alam kita, kita bisa atasi krisis fosil, wujudkan energi murah dan bersih, serta bangun masa depan ekonomi hijau yang lestari bagi generasi mendatang.