Industri kimia jadi tulang punggung energi, farmasi, material—tapi proses tradisional hasilkan limbah berbahaya dan emisi CO2 yang percepat perubahan iklim. Hanya 10-15% industri kimia global terapkan praktik berkelanjutan menyeluruh. Sustainable Chemical Process Technology (SCPT) tawarkan solusi: ubah limbah jadi sumber daya via teknik ramah lingkungan, sesuai ekonomi sirkular.
SCPT sejalan prinsip kimia hijau: cegah limbah, hemat energi, pakai bahan terbarukan. Teknologi kunci: konversi biomassa, daur ulang minyak jelantah, olah plastik via pyrolysis. Indonesia hasilkan 146 juta ton biomassa/tahun dari jerami, ampas tebu, sawit—bisa jadi bioetanol, biogas, furfural lewat enzimatisasi dan fermentasi.
Minyak goreng bekas, limbah rumah tangga melimpah, transesterifikasi jadi biodiesel pakai katalis basa/enzim. Surabaya-Bandung sudah program daur ulang, kurangi cemaran, ganti fosil. Plastik PET/HDPE/polistirena pyrolysis jadi minyak, biosolar, monomer—pecah rantai polimer tanpa oksigen pada suhu tinggi, hasilkan gas-tar-arang.
Teknologi pyrolysis sederhana, cocok UKM: investasi rendah, operasional hemat, HPP kompetitif. Potensi ekonomi besar, tapi tantangan serius: biaya awal tinggi, infrastruktur lemah, regulasi tumpang tindih, logistik pengumpulan limbah buruk, kurang SDM terlatih.
Strategi jelas: pemerintah kasih insentif pajak, percepat izin, subsidi riset. Integrasi ekonomi sirkular kurangi bahan berbahaya, energi terbarukan, daur ulang total. Kolaborasi industri-akademisi-masyarakat kunci, edukasi pelaku usaha, kembangkan vokasi teknik hijau.
Indonesia punya modal: biomassa melimpah, limbah organik kota besar, tenaga muda. SCPT bukan opsi, tapi keharusan—ubah krisis limbah jadi peluang ekonomi hijau, kurangi emisi, saingi global. Mulai skala kecil UKM, skalakan pabrik besar, wujudkan industri kimia lestari.
Industri kimia jadi tulang punggung energi, farmasi, material—tapi proses tradisional hasilkan limbah berbahaya dan emisi CO2 yang percepat perubahan iklim. Hanya 10-15% industri kimia global terapkan praktik berkelanjutan menyeluruh. Sustainable Chemical Process Technology (SCPT) tawarkan solusi: ubah limbah jadi sumber daya via teknik ramah lingkungan, sesuai ekonomi sirkular.
SCPT sejalan prinsip kimia hijau: cegah limbah, hemat energi, pakai bahan terbarukan. Teknologi kunci: konversi biomassa, daur ulang minyak jelantah, olah plastik via pyrolysis. Indonesia hasilkan 146 juta ton biomassa/tahun dari jerami, ampas tebu, sawit—bisa jadi bioetanol, biogas, furfural lewat enzimatisasi dan fermentasi.
Minyak goreng bekas, limbah rumah tangga melimpah, transesterifikasi jadi biodiesel pakai katalis basa/enzim. Surabaya-Bandung sudah program daur ulang, kurangi cemaran, ganti fosil. Plastik PET/HDPE/polistirena pyrolysis jadi minyak, biosolar, monomer—pecah rantai polimer tanpa oksigen pada suhu tinggi, hasilkan gas-tar-arang.
Teknologi pyrolysis sederhana, cocok UKM: investasi rendah, operasional hemat, HPP kompetitif. Potensi ekonomi besar, tapi tantangan serius: biaya awal tinggi, infrastruktur lemah, regulasi tumpang tindih, logistik pengumpulan limbah buruk, kurang SDM terlatih.
Strategi jelas: pemerintah kasih insentif pajak, percepat izin, subsidi riset. Integrasi ekonomi sirkular kurangi bahan berbahaya, energi terbarukan, daur ulang total. Kolaborasi industri-akademisi-masyarakat kunci, edukasi pelaku usaha, kembangkan vokasi teknik hijau.
Indonesia punya modal: biomassa melimpah, limbah organik kota besar, tenaga muda. SCPT bukan opsi, tapi keharusan—ubah krisis limbah jadi peluang ekonomi hijau, kurangi emisi, saingi global. Mulai skala kecil UKM, skalakan pabrik besar, wujudkan industri kimia lestari.